Selamat Memperingati Isra’ Mi’raj 1447 H

Mengambil Hikmah Perjalanan Agung: Selamat Memperingati Isra’ Mi’raj 1447 H
Keluarga besar MTs. Miftahul Huda Silir mengucapkan:
“Selamat Memperingati Hari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab 1447 H. Bulan penuh kemuliaan, waktu di mana setiap bisikan doa terasa lebih dekat dengan Arsy-Nya.”
Momen yang jatuh pada Kamis, 15 Januari 2026 ini bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan pengingat akan sebuah perjalanan spiritual paling spektakuler dalam sejarah manusia. Mari kita menyelami kembali kisah perjuangan Rasulullah dalam malam yang penuh keajaiban tersebut.
Kisah Perjuangan di Balik Isra’ Mi’raj
Isra’ Mi’raj terjadi pada masa yang disebut sebagai Amul Huzni (Tahun Kesedihan), di mana Nabi SAW baru saja kehilangan dua pendukung utamanya: istrinya, Khadijah R.A., dan pamannya, Abu Thalib. Di tengah tekanan kaum Quraisy yang semakin berat, Allah memberikan “hadiah” perjalanan ini untuk menghibur dan menguatkan hati Baginda Nabi.
- Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’)
Malam itu, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan membelah dadanya untuk disucikan dengan air zamzam. Nabi kemudian mengendarai Buraq, makhluk surgawi yang kecepatannya sejauh mata memandang.
Perjalanan dari Makkah (Masjidil Haram) ke Palestina (Masjidil Aqsa) yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, ditempuh hanya dalam sekejap. Di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW memimpin salat berjamaah sebagai imam bagi seluruh nabi-nabi terdahulu. Ini menunjukkan kedudukan beliau sebagai Khatamul Anbiya (Penutup para Nabi).- Menuju Langit Ketujuh (Mi’raj)
Setelah dari Baitul Maqdis, Nabi Muhammad ditemani Jibril naik menembus lapisan-lapisan langit. Di setiap pintu langit, beliau disambut oleh para nabi:
- Langit 1-6: Bertemu Nabi Adam, Isa, Yahya, Yusuf, Idris, Harun, dan Musa.
- Langit 7: Bertemu Nabi Ibrahim A.S. yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur, tempat yang setiap harinya dimasuki 70.000 malaikat untuk beribadah.
- Sidratul Muntaha dan Perintah Salat
Puncak dari segala puncak adalah ketika Nabi Muhammad mencapai Sidratul Muntaha, batas tertinggi di mana makhluk (bahkan Jibril sekalipun) tidak diizinkan melaluinya. Di sinilah Nabi berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.
Dalam pertemuan agung tersebut, umat Islam menerima perintah Salat 50 waktu. Namun, atas saran Nabi Musa A.S. yang memikirkan kemampuan umat manusia, Nabi Muhammad berkali-kali kembali memohon keringanan kepada Allah hingga akhirnya ditetapkanlah Salat 5 Waktu sehari semalam dengan pahala yang setara dengan 50 waktu.
Makna Bagi Kita Saat Ini
Perjuangan Nabi dalam Isra’ Mi’raj mengajarkan kita bahwa setelah kesulitan yang menghimpit, selalu ada kemuliaan yang menanti. Salat yang kita tegakkan setiap hari adalah “Mi’raj”-nya orang beriman—sarana bagi kita untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta.
Semoga peringatan Isra’ Mi’raj 1447 H ini meningkatkan kualitas ibadah kita dan mempererat hubungan kita dengan Allah SWT.
Mari Terhubung dengan MTs. Miftahul Huda Silir:
- Instagram/TikTok: @mtssilir
- Facebook: Sekolah Gratis MTs MH Silir
- YouTube: MTs Miftahul Huda Silir

Leave a Comment